Greetings!

I'm Fenny and welcome to my site. What will you find in this site? Well, you tell me. The words represent what's on my world. You like it or not, it doesn't matter at all. Have a nice read!!
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2012

GILA!

| | 0 komentar

Kenapa kami tidak bisa bersama? Kenapa kami tidak bisa saling mencintai? Kenapa kami tidak bisa bersatu? Kenapa... kenapa harus kami?

Apakah ada yang salah? Agama, pendidikan, latar belakang keluarga, pekerjaan... semua sudah sesuai kriteria. Lalu apa yang salah? Mengapa kami tidak bisa bersama?

Pertanyaan itu selalu muncul di otakku. Kau bilang, “Ibu tak setuju karena warna kulit kita berbeda. Kita memang tinggal di negeri yang sama, tapi negeri asalku bukan di sini. Negeri asalku adalah negeri yang menjunjung tinggi keturunan asli. Aku benar-benar mencintaimu, tapi kita tidak bisa bersama. Bagaimanapun juga dia adalah ibuku. Ibu yang melahirkan dan merawatku selama ini, tapi percayalah bahwa aku benar-benar mencintaimu.”

Saat itu juga kau katakan kepadaku bahwa aku harus menjauhimu. Semuanya demi hati kita, katamu. Tak ada manusia yang ingin sakit hati. Tapi mendengar kata menjauhi saja, hatiku sudah mulai sakit, sayangku. Lalu apalah yang akan terjadi jikalau aku melakukannya nanti? Ah, hatiku mungkin akan hancur berkeping-keping. Takkah kau mengerti, sayangku?

Kata seorang temanku ketika kuceritakan keadaan kita berdua, “Menghindar atau menjauh adalah sebuah mekanisme pencegahan rasa sakit.” Kenapa dia berpihak padamu? Aku hanya tak ingin menyerah terhadap apa yang telah aku putuskan... mencintaimu!

Terlalu berisik. Aku berusaha untuk tidur agar kepalaku menutup mulutnya sedikit. Di dalam kereta ini, kereta yang membawaku pergi jauh darimu bersama cincin yang sudah menjadi kalung, pasangan cincinmu! Ah, kuharap kau tak membuangnya. Aku lelah, sayang. Kusampaikan kecupanku melalui setiap partikel udara yang ada di bumi ini, melalui setiap debu yang ada di bumi ini. Semoga ketika kereta ini tiba di tujuannya, aku pun bisa sedikit melupakan dirimu yang bahkan bukan lagi hanya sebuah siluet, tapi syaraf otak yang terus beregenerasi, melingkupi, menyampaikan impuls-impuls ke seluruh tubuhku dan aku... hidup! 

Stasiun kota blitar, 17:37, Gerbong 1 (12D-12E)
Read more...

Selasa, 13 September 2011

Amarah Pada Kesialan

| | 0 komentar

Sedikit lagi pisau itu terhujam ke perutnya. Ya, perut ayahku. Aku akan membunuhnya. Aku benci padanya. Bahkan melihat mukanya pun aku tak sudi. Tidakkah dia mengerti bagaimana perasaanku sekarang? Tidakkah dia mengerti bagaimana keadaan keluarganya sekarang? Tidakkah dia mengerti apa yang seharusnya dia lakukan sebagai seorang ayah pada saat sekarang ini?

Sedikit lagi pisau itu terhujam ke perutnya. Ya, perut ayahku. Aku akan membunuhnya. Ibuku berteriak dan seperti mesin, tanganku berhenti seketika itu juga. Ibuku menangis, adikku berdiri di sudut ruang keluarga ketakutan. Apa yang kurasakan sekarang sangatlah membara. Aku seperti ingin menghancurkan tembok di sekitarku, aku ingin mengobrak-abrik semuanya. Tanganku bergetar. Ketika tanganku berhenti dan lambat laun turun, aku merasa lemas. Duduk terdiam dan ibuku tetap melanjutkan tangisannya. Adikku, ya adikku, dia sekarang duduk meringkuk di sudut ruang keluarga. Setelah rasa membara itu cukup reda, aku mengangkat diriku dengan paksa dan berdiri di depan ayahku yang terjebak di dapur dengan wajah pucatnya . Hahaha… aku ingin tertawa melihat wajahnya yang seperti itu. Wajah yang dahulu tak pernah sedikit pun berpaling padaku, kini berpaling dan berwarna pucat. Menjijikkan!

“Kau… ya kau!! Menjijikkan! Taik! Anjing! Mana ada orang seumurmu yang begitu bodoh?! Sudah tua tapi tak pernah belajar! Dulu ketika kau masih punya uang, kau buang kami! Kau sibuk dengan pekerjaan sialanmu itu! Sekarang apa? Hah? Sekarang apa? Kau tidak berbuat apa-apa! Aku yang menjadi korban semua ini! Korban kebodohanmu! Korban kenaifanmu untuk percaya kepada keluarga sialanmu itu!" Aku mengeluarkan semua isi kepalaku seketika itu juga tanpa sedikit pun berniat untuk merendahkan nada suaraku.

Aku tak sudi mengeluarkan setetes air mata untuk pecundang satu ini, tapi tak bisa. Aku tak bisa mengendalikannya. Kulanjutkan perkataanku sambil terisak,

“Ka kau… kau kira aku senang bekerja? Hah? Aku ingin sekolah seperti…” kutarik ingusku, “saudara-saudara sepupuku yang lain! Aku malu! Aku maluuuuu!! Kenapa kita harus hidup miskin? Kenapa kita tidak seperti dulu? Kenapa kita tidak punya rumah yang besar dan mobil lagi? Hah? JAWAB AKU! DASAR KAU PECUNDANG!”

“Maafkan aku, nak!” kata manusia sialan itu menjawabku sambil berlutut memohon. Aku tak lagi ingin memanggilnya “ayah”.

“Nak? NAK?! Jangan pernah panggil aku “nak”, goblok! Aku tidak sudi punya ayah yang goblok seperti dirimu!”

Kulihat ibuku, tak berhenti menangis. Kepalaku berputar dan berputar. Aku harus melakukan sesuatu, aku sudah lelah. Jika kusuruh sialan ini pergi, ibuku akan terus bersedih dan aku akan terus merasa bersalah.

Kutarik napas sekuat tenaga dan kuhembuskan... aku sedikit tenang, lalu kataku, “Kau boleh tinggal di rumah ini. Itu hanya karena ibu. Tapi jangan pernah berharap kau dan aku tetap menjadi “ayah dan anak”. JANGAN PERNAH!”

Ah, pisau di tanganku ternyata belum terlepas. Aku berbicara dengannya ternyata dengan mengacung-acungkan pisau. Setelah kurasa pembicaraan sudah selesai, pisau itu kubawa ke kamar. Kuletakkan di sampingku, lalu aku berbaring dan membersihkan wajahku dari ingus dan air mata dengan bajuku. Berjaga-jaga jika saja dia mencoba untuk membunuhku. Itulah keluarga. Kau tahu langkah apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh anggota keluargamu. Kau sangat mengerti orang seperti apa mereka.

“Kau harus ingat, di dunia ini tak ada orang yang dapat dipercaya, bahkan keluargamu sekalipun.”

 Itu kata manusia sialan itu padaku.
Read more...

Selasa, 06 September 2011

Aku Suka Bercerita

| |

Aku Marni, seorang pembantu rumah tangga. Aku bekerja di tiga rumah. Hal ini kulakukan karena aku membutuhkan uang. Aku suka bercerita, kata orang-orang aku ini lumayan cerewet juga. Aku ingin membagikan ceritaku tentang ketiga rumah di tempat aku bekerja.

Rumah A: orangnya cerewet. Belum selesai tugas satu, disuruh lagi tugas yang lainnya. Ibu itu entah kenapa sangat takut dengan anak perempuan pertamanya. Anaknya itu sudah berkeluarga dan punya tiga anak. Anak terakhir masih balita. Ya, dia sering dititipkan di neneknya karena ibu dan ayahnya sibuk bekerja. Mungkin lebih tepatnya malas mengurus anak.

Rumah B: orangnya cerewet dan kasar. Ya, rumah ini milik anak perempuan ibu rumah A. Ketiga anaknya seperti orang gila, apalagi yang pertama dan kedua. Mereka tidak segan-segan untuk memukulku. Mereka selalu berkata kasar. Mungkin itu semua karena mereka melihat orang tuanya seperti itu. Ketiga anak ini hamper setiap hari dititipkan di neneknya yang sering sakit-sakitan karena pengaruh umur.

Rumah C: Ibu ini saudara ibu rumah A. Sifatnya baik. Dia sering memberikan aku makanan untuk kubawa pulang buat aku dan anak-anakku. Lupakan soal suamiku, anggap saja dia sudah mati tertabrak mobil tepat di hari dia meninggalkanku. Ibu rumah C ini punya tiga orang anak. Aku tak tahu yang pertama ada dimana, yang kedua tinggal di sini dan si bungsu kuliah di kota lain. Saat ini si bungsu lagi pulang ke sini. Si bungsu setiap hari kerjanya hanya tidur. Tapi rumah ini jauh lebih baik daripada rumah A dan B.

Aku suka bercerita, jadi aku menceritakan hal-hal yang terjadi di rumah A dan B kepada pemilik rumah C dengan keluhan-keluhanku di sana tentunya, seperti halnya yang kuceritakan padamu sebelumnya. Perlakuan yang sama kulakukan ketika masih bekerja di rumah A dan B. Ya, beberapa waktu yang lalu aku berhenti dari dua rumah orang gila itu.

Suatu hari, ibu rumah C tidak ada, hanya ada suaminya. Tak ada istri, suaminya pun jadi. Aku suka bercerita. Jadi kuceritakan saja kepada suaminya hal yang sama seperti yang kuceritakan pada istrinya. Mimiknya berubah dan dengan nada kesal dia berkata,

“Kenapa kau masih mau bekerja di tempat itu kalau kau merasa tidak suka?!” “Yah… mau bagaimana lagi, pak. Namanya juga cari uang,” jawabku.

“Ya sudah kalau begitu! Tak usah kau berkeluh kesah! Aku tak suka orang seperti itu! Kalau aku, tak suka, maka tak kukerjakan! Kau ini! Jangan menjelek-jelekkan orang! Sudah! Lanjutkan lagi pekerjaanmu.”

Aku suka bercerita, tapi sepertinya aku harus mencari topik yang lebih baik untuk diceritakan kepada orang lain.
Read more...

Minggu, 20 Maret 2011

Aku dan Monster

| | 0 komentar

Setiap manusia memiliki monster di dalam dirinya. Sebuah pilihan untuk memunculkannya ke permukaan atau tidak. Seperti tinta yang merembes di atas kain, hal itu berpengaruh terhadap pola tingkah laku dan cara berpikir manusia. Dalam keadaan lemah ataupun terdesak, monster itu bisa timbul ke permukaan. Bentuk apapun yang dimilikinya membuat seseorang terlihat berbeda dari biasanya.

Dalam kondisi ini, kutuliskan hal-hal yang mungkin bisa membuatmu waspada terhadap hal terburuk yang engkau punya di dalam dirimu. Aku sudah tidak tahu yang mana diriku yang asli dan mana monster itu.

"Daviiiid! Makan malam sudah siap!" suara Ibu terdengar dari lantai bawah rumah
"iya, bu!" jawabku.

monster itu untuk sejenak mengundurkan diri.

Aku tahu. monster itu selalu muncul ketika aku sedang dalam kondisi "negatif". Tidak hanya diriku, kemana pun aku pergi, semua hal secara spontan menjadi negatif. Sungguh berbahaya bagi lingkungan sekitarku. Harus mengalahkannya sekarang juga, jika tidak, maka bukan hanya aku saja yang termakan, tapi juga lingkunganku. Aku tidak ingin hal itu terjadi.

satu hari. dua hari. tiga hari. satu minggu. dua minggu. Monster itu kembali muncul. Selama itu aku berusaha untuk menahannya. Ternyata tidak bisa untuk jangka waktu yang lama. Apa yang harus aku lakukan? Sepertinya salah satu cara adalah menghindar. Ya, menghindar!

Satu per satu, kubuang hal-hal yang berharga bagiku agar mereka tidak seperti aku. Ya, mereka. Kuciptakan pikiran-pikiran jelek tentang mereka. Memunculkan berbagai alasan untuk membenci mereka. Pada akhirnya, aku mendapati diriku membenci mereka tanpa alasan yang jelas, melihat wajah saja aku sudah merasa muak!

Sekarang hanya ada aku dan monster itu berdiri di tengah setitik cahaya yang sangat menyilaukan mata. Aku merasa diriku terus berlari menjauhi cahaya itu, tapi Dia selalu berlari mendekatiku. Dia tak pernah gagal. Tinggal aku yang memutuskan untuk berhenti atau terus berlari.

"You wanna heal your body? You have to heal your heart - by India Arie"
Read more...

Rabu, 08 Desember 2010

"Miskin"

| | 0 komentar

Sewaktu aku kecil dulu, aku pernah bertanya kepada Ayah begini, “Ayah, kenapa rumah kita kecil sekali? Padahal teman-temanku mempunyai rumah yang lebih besar. Mereka sering berkata “miskin” padaku. Memangnya miskin itu apa, yah? Apa miskin itu karena punya rumah yang kecil?”

Ayahku menghembuskan asap rokoknya lalu berkata, “Tidak, nak. Miskin itu bukan karena punya rumah yang kecil.”

“Lalu, apa, yah?” tanyaku sambil mendekatinya.

Dia menggendongku dan menaruhku di pangkuannya. “Ayah akan memberitahumu, tapi kau harus janji untuk tidak melupakan apa yang akan ayah katakana. Ya?”

“Baiklah, yah.” Jawabku sambil mengangguk.

“Miskin itu tidak punya Tuhan, tidak punya kasih dan tidak bahagia. Kau boleh punya rumah yang besar tapi jika kau tidak punya Tuhan, tidak punya kasih, dan tidak bahagia, kau sama dengan NOL. Nol itu tidak berarti apa-apa. Di mata orang, kita mungkin nol karena rumah yang kecil di bawah jembatan bersama rongsokan, tapi di mata Tuhan kita adalah sesuatu yang berarti dan bernilai. Kita bukan NOL. Yah, sayang. Jangan pernah kau lupakan apa yang telah kuucapkan. Karena kau sudah berjanji dan janji harus ditepati.” Kata ayah dengan senyum yang paling manis yang pernah kulihat.

Aku mengangguk dan sampai hari ini, kata-kata itulah yang menopangku untuk meneruskan usahaku yang telah memberi makan 4000 orang dengan berlandaskan Tuhan, kasih dan aku bahagia dengan apa yang kumiliki sekarang ini. Dan kau tahu, rumahku sekarang masih tetap kecil (aku lebih nyaman di rumah kecil), namun di lingkungan yang lebih baik.
Read more...

Rabu, 24 November 2010

Bacaan 30 Detik: Dia Membutuhkan Tanganmu

| | 0 komentar


The Original English version : click here

Seorang Tuan dan muridnya berjalan melewati sebuah gurun di Arabia. Tuan itu menggunakan setiap saat dalam perjalanan tersebut untuk mengajarkan kepada muridnya tentang hal kepercayaan.
“Percayakanlah kepada Tuhan berbagai hal yang ada padamu,” katanya. “Karena Dia tidak akan pernah membiarkan anakNya.”

Ketika mereka berhenti untuk berkemah di malam hari, Sang Tuan meminta muridnya untuk mengikat kuda-kudanya ke bebatuan di dekat situ. Si murid menghampiri bebatuan itu, tapi kemudian dia teringat akan apa yang telah ia pelajari sore harinya. “Tuan pasti sedang mencobai aku. Yang benar adalah bahwa aku harus memercayakan kuda-kuda ini kepada Tuhan.” Dan ia pun meninggalkan kuda-kuda itu tanpa mengikatnya.

Pagi harinya, si murid menemukan bahwa kudanya telah kabur. Dengan marah, dia mencari gurunya. “Kau tidak tahu apapun tentang Tuhan! Kemarin, aku belajar bahwa aku harus percaya tanpa alasan kepada pemeliharaan Tuhan, jadi aku menyerahkan kuda-kuda itu kepada Tuhan, dan binatang itu lenyap!”

“Tuhan ingin menjaga kuda-kuda itu,” jawab Sang Tuan. “Tapi, pada saat itu, Dia membutuhkan tanganmu untuk mengikat kuda-kuda itu dan kau tidak meminjamkan tanganmu itu kepadaNya.”
Read more...

Senin, 05 April 2010

Ayah dan Bintang

| | 0 komentar


Di suatu malam yang penuh bintang, seorang anak bertanya pada ibunya.

“Ibu, kenapa Tuhan merubah ayah menjadi bintang?”

Sambil tersenyum ibunya menjawab, “Itu karena bintang adalah salah satu ciptaan Tuhan yang indah. Kau suka bintang, kan?”

“Ya, aku suka bintang. Tapi aku sedih kalau ayah jadi bintang,” kata anak itu sambil merengut.

“Lho, kenapa?” tanya ibu penasaran.

“Aku sering merindukan ayah di pagi hari.”
Read more...

Sabtu, 20 Maret 2010

My Friend and My Heart

| | 5 komentar

Di suatu hari yang biasa di sebuah toko buku, seorang anak laki-laki sedang berdiri terdiam di depan sebuah rak buku berisi buku cerita anak-anak kesukaannya. Kemudian kedua tangannya mengambil dua buku dari rak tersebut. Dia bingung harus membeli yang mana. Apakah yang berjudul “My Friend” atau “My Heart” yang harus dia beli. Tak mungkin dia membeli keduanya karena uangnya tidak cukup. Di saat terakhir, dia memutuskan untuk menunggu selama 3 hari, sampai ia dapat memutuskan buku apa yang akan dia pilih.

Hari pertama. Anak laki-laki itu bertanya kepada ibu dan ayahnya tentang hal tersebut. Kemudian ayah dan ibunya berkata bahwa dia harus membaca ringkasan cerita dari kedua buku itu. Di sampul belakang buku biasanya ada ringkasan ceritanya. Ia pun menerima saran itu.

Hari kedua. Ia bertanya hal yang sama kepada teman-teman dekatnya. Teman-temannya berkata bahwa dia harus melihat tebal dan harga bukunya. Jika murah dan tebal lebih baik ia membelinya. Jika pun mahal, tapi sampulnya menarik dan tebalnya lumayan lebih baik dia membelinya.

Hari ketiga. Hari terakhir dan ia harus memutuskannya. Sambil berbaring di tempat tidur, ia berkata dalam hatinya, “Apa yang harus kulakukan? Aku harus membeli buku itu besok kalau tidak buku itu akan terjual habis. Tentu saja aku akan menyesal.”

Keesokan harinya di toko buku. Anak lelaki itu mengambil kedua buku yang akan dia pilih. Dia mulai mengikuti nasihat orang tuanya, membaca ringkasan cerita di sampul belakang kedua buku itu. Dia belum bisa memutuskannya. Kemudian dia melihat harga dan tebal buku itu. Harganya sama dan tebalnya sama. Dia menjadi semakin bingung. Ketika melihat ada bangku di dekat rak buku itu, dia pun duduk sambil terus berpikir apa yang harus dia lakukan.

Tiba-tiba, ada seseorang memegang kepalanya. Kemudian ia mendongakkan kepalanya. Terlihat sosok yang sangat dikenalnya.

“Ibu! Kenapa ibu bisa ada di sini?” katanya.

“Ibu mengikutimu kemari. Ibu melihatmu gelisah tiga hari ini. Ada apa denganmu, nak?” tanya ibunya khawatir.

“Aku bingung, bu harus membeli buku yang mana. Uang yang kukumpulkan dengan menghemat uang jajanku tidak cukup untuk membeli keduanya.” kata anak itu sedih.

“Oh, ternyata kau mengkhawatirkan soal itu!” kata ibunya lega.

Ibunya mengambil posisi jongkok di depan anaknya kemudian berkata, “Ibu pernah mengalami hal yang sama denganmu. Pada saat ingin memutuskan sesuatu, ibu biasanya menutup mata dan menenangkan diri. Lalu ibu akan mendengar suara seseorang berkata kepada ibu tentang apa yang harus ibu putuskan. Itu namanya suara hati.”

Setelah mendengar hal itu, anak laki-laki itu tetap saja masih memasang wajah bingung. Melihat hal tersebut si ibu pun lalu duduk di samping anaknya sambil merangkulnya.

“Nak, kau tahu? Suara hati itulah yang paling baik kau dengarkan. Suara hati adalah pemberian Tuhan yang berharga kepada manusia. Itu akan membantumu untuk memutuskan sesuatu,” kata ibu sambil tersenyum.

Anak itu pun melakukan sesuai apa yang dinasehatkan ibunya. Setelah memejamkan mata untuk beberapa saat, anak itu pun membuka matanya dan berjalan menuju rak buku tersebut. Ia berdiri tegak lalu mengambil salah satu buku dari rak buku itu dengan rasa percaya diri. Ia memilih ‘My Heart’. Setelah itu, ia pergi ke kasir dan membayarnya.

“Ibu, ayo kita pulang!” kata anak itu dengan gembira.

Ibunya membalas, “Tunggu sebentar, nak! Ibu tadi melihat buku memasak yang bagus. Ibu ingin membelinya. Bisakah kau menunggu ibu di luar?”

“Baiklah!” kata anak laki-laki itu riang. Kemudian ia berjalan keluar toko buku sambil memegang buku yang baru saja ia beli.

Pada saat yang sama, si ibu pergi ke rak buku cerita anak-anak. Ia mengambil satu buku, kemudian di tatapnya lekat-lekat dan dibolak-balikkannya buku itu kemudian tersenyum. Ia pun berjalan ke kasir dan membayar buku berjudul ‘My Friend’ yang diinginkan anaknya.

Read more...

Minggu, 07 Maret 2010

My name is...

| | 0 komentar


Di suatu hari yang cerah, ada seorang pria paruh baya sedang berjalan-jalan di antara deretan pohon maple di sebuah taman dekat rumahnya. Sambil berjalan-jalan, sebenarnya dia memikirkan bagaimana caranya dia akan menghadapi penyakitnya. Penyakit yang ia derita dapat membuatnya melupakan keluarga, teman-teman, lingkungan, dan bahkan namanya sendiri. Dia sangat ingin untuk tidak melupakan mereka.

Di tengah perjalanan, dia melihat seorang pelukis jalanan sedang melukis pemandangan taman itu dengan menambahkan pelangi di antaranya. "Wah, bagus sekali lukisan ini!" pikir pria itu. Ia pun meneruskan perjalanan. Setelah beberapa langkah meninggalkan pelukis itu, muncul sebuah ide di benaknya. Ia memanggil pelukis jalanan itu. Setelah bercakap beberapa lama, ia dan pelukis itu berjalan keluar taman itu.

Sesampainya di rumah, pelukis dibantu pria paruh baya itu menjejerkan kaleng-kaleng cat yang mereka beli di tengah perjalanan mereka menuju rumah. Mulailah pelukis itu bekerja. Setengah hari sudah terlewat.

Malam harinya, ketika pelukis itu telah selesai bekerja, pria tersebut datang dengan penuh rasa penasaran. Tes tes tes…. Air mata pria paruh baya itu jatuh ke atas koran yang melapisi lantai ruang kerja agar terhindar dari cat. Begitu indah lukisan yang dibuat di tembok ruangan itu. Sebuah lukisan pemandangan yang indah dan nyaman. Pelangi, burung-burung merpati yang beterbangan, sungai yang mengalir dan hamparan padang hijau di sekitarnya dengan bunga-bunga yang melengkapi kesempurnaannya.

Pelukis itu berkata, "Ingatlah pelangi ini sebagai orang-orang yang ada di sekitarmu dan perasaan yang kau rasakan pada saat bersama mereka adalah keseluruhan dari lukisan ini."

"Ah, lalu bagaimana jika aku melupakan namaku?" tanya pria paruh baya itu.

"Tenang saja, di pojok sebelah kanan bawah lukisan ini sudah kutuliskan My name is Remem Berall, Jr."
Read more...

Labels

dongeng (9) farmasi (2) kampus (3) kegiatan (6) perkenalan (19) reflection (26) terjemahan (1) time capsule (18)
fenny_git2ndgig. Diberdayakan oleh Blogger.
Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Stalker

Followers